About Us

Foto saya
Tangerang, Banten, Indonesia

Selasa, 24 Maret 2020

Stasiun Kalasan: Riwayatmu Kini

Stasiun Kalasan yang terletak di Kringinan, Tirtomartani, Kalasan, Sleman Yogyakarta memiliki sejarah perkembangan yang tidak bisa lepas dari sejarah perkembangan perkerataapian di Yogyakarta. Berawal setelah tahun 1870, dimana banyak muncul pabrik-pabrik gula maupun perkebunan milik Belanda yang ada di Yogyakarta. Untuk mengangkut hasil perkebunan dan produksi pabrik ini, pemerintah Hindia Belanda bersama NISM (Nederlands Indische Spoorweg Maatschapij) untuk membangun jalur rel kerta api utama yang menguhubungkan Yogyakarta ke Cilacap dan Batavia, lalu jalur Yogyakarta  ke Semarang, dan jalur Yogyakarta ke Surabaya serta Semarang. Tidak ketinggalan pula, sub jalur kereta api dari Stasiun Kalasan – Tugu – Kedandang (masuk pada jalur utama). Adapun pembangunan  jalur kerta api ini bersamaan dengan pembangunan stasiun-stasiun kecil yang dimulai dari tahun 1864 (Pratikto, 2018: 2-5). Dengan kata lain, pembangunan jalur kereta api sudah dimulai lebih awal dan ketika pabrik-pabrik gula mulai banyak bermuncul maka pembangunan jalur kereta api ini semakin masif.
Yogyakarta menjadi salah satu daerah yang memiliki tanah yang subur sehingga sangat cocok untuk mengembangkan perkebunan, terutama perkebunan tebu. Di dekat Stasiun Kalasan sendiri terdapat Pabrik Gula Tanjungtirto dimana pabrik ini menggunakan Stasiun Kalasan sebagai tempat untuk mengangkut hasil produksinya ke kota-kota pelabuhan yang kemudian akan diekspor. 

Peta Stasiun Kalasan pada tahun 1924. Sumber: Leidenmaps.
Bangunan Stasiun Kalasan memiliki bentuk bangunan awal stasiun yang tergolong sederhana. Pada kurun waktu 1867-1900 perusahaan pengelolaan transportasi di jalur Semarang-Vorstenlanden dikelola oleh NISM. Stasiun-stasiun yang dibangun pada tahun pertama sejak 1867 memiliki bentuk sederhana seperti rumah pendopo dengan overstek. Selain itu, pembangunan struktur, konstruksi, serta desain banyak dipengaruhi oleh kondisi iklim setempat. Stasiun Kalasan berada di jalur kereta api komersil yang bertujuan untuk mengangkut hasil perkebunan dari pada mengangkut manusia, sehingga bangunannya tidak dibangun dengan megah ataupun fasilitas ruang tunggu yang lengkap (de Jong, 1933: 40 dalam Sulistyanti, 2010: 64).
Stasiun Kalasan: Riwayatmu Kini_OB
Fasad Stasiun Kalasan yang didominasi dengan cat putih dan menghadap ke arah utara. Sumber: dokumentasi pribadi.
Stasiun Kalasan sendiri berbatasan dengan pemukiman disebelah utara, gudang barang disebelah timur, rel kereta api disebelah selatan, dan gardu listrik disebelah barat. Lokasinya yang dekat dengan Jalan Jogja-Solo membuat Stasiun ini dapat dengan mudah dijangkau serta dekat dengan permukiman penduduk. Stasiun yang memiliki luas sekitar 345,36 m2 ini memiliki beberapa fasilitas yaitu ruang tunggu, kantor kepala stasiun, kantor navigasi, gudang, dan toilet. Alterasi yang dilakukan pada stasiun ini hanya pada penambahan ruang dan pergantian lantai stasiun yang awalnya tegel kotak-kotak menjadi keramik. Stasiun Kalasan yang memiliki koordinat 7o46’27” S 110o27’54” E (UTM Geomap) ini merupakan stasiun yang berada di Timur Yogyakarta yang menghubungkan antara Stasiun Maguwo Lama dan Stasiun Brambanan.
Peta Stasiun Kalasan pada tahun 2019. Garis kuning menunjukkan bangunan Stasiun Kalasan. Garis merah hanya sebagai penanda lokasi Stasiun Kalasan. Sumber: Google Earth.
Sejak tahun 2008 Stasiun Kalasan sudah tidak dioperasikan lagi. Hal ini dikarenakan pihak PT. KAI sebagai pengelola telah membuka jalur ganda yang menghubungkan antara Yogyakarta dan Kutoarjo dan efiesiensi waktu mengingat jarak Stasiun Maguwo – Stasiun  Kalasan – Stasiun Brambanan tergolong dekat. Selain itu, di tahun yang sama, stasiun ini mengalami kebakaran pada ruangan kepala stasiunnya yang menyebabkan beberapa bagian dari stasiun ini terbakar dan meninggalkan bekas kehitaman di bagian dinding serta plafon-nya.
Stasiun Kalasan: Riwayatmu Kini_OB
Ruangan Kepala Stasiun yang mengalami kebakaran. Dan seperti itulah kondisinya. Sumber: dokumentasi pribadi.
Perlu diketahui bahwa Stasiun Kalasan dulunya mempunyai enam jalur kereta api dengan formasi dua jalur lurus, tiga jalur berhenti dan satu jalur gudang dengan ditandai adanya spoor badug yang berada tepat di sebelah PPKA (Pengatur Perjalanan Kereta Api). Namun sekarang hanya terdapat dua rel yang saja yang masih digunakan dan rel lainya  terlihat sudah tidak utuh.
Gambar sketsa Stasiun Kalasan dengan enam jalur, sumber: kaskus.com.
Stasiun Kalasan: Riwayatmu Kini_OB
Salah satu dari bekas tiga jalur rel Stasiun Kalasan yang kini hanya tinggal sisa dan tertutupi aspal. Sumber: dokumentasi pribadi.

Stasiun Kalasan: Riwayatmu Kini_OB
Salah satu dari bekas tiga jalur rel Stasiun Kalasan yang kini hanya tinggal sisa. Dimana tampak melewati sebuah selokan. Sumber: dokumentasi pribadi.

Stasiun Kalasan: Riwayatmu Kini_OB
Salah satu bekas tiga jalur rel Stasiun Kalasan yang kini hanya tinggal sisa. Dimana tampak melewati sebuah selokan. Sumber: dokumentasi pribadi.

Stasiun Kalasan: Riwayatmu Kini_OB
Salah satu bekas tiga jalur rel Stasiun Kalasan yang kini hanya tinggal sisa. Dimana sebagian sudah tertutup aspal dan sebagian masih tampak melewati sebuah selokan. Sumber: dokumentasi pribadi.
Stasiun Kalasan yang tidak dioperasikan lagi membuatnya terbengkalai dan tidak terawat. Kondisi terkini dari bangunan Stasiun Kalasan sebagai berikut:
  • Dinding
Bagian dinding dari stasiun secara keseluruhan di cat dengan menggunakan warna putih dan telah mengelupas. Pada beberapa bagian dinding sudah hancur dengan lapisan semen yang terkelupas dan juga yang sudah rubuh.
Stasiun Kalasan: Riwayatmu Kini_OB
Tampilan kondisi dinding Stasiun Kalasan secara keseluruhan. Foto ini diambil dari sisi selatan Stasiun Kalasan. Sumber: dokumentasi pribadi.
  •  Lantai
Saat ini seluruh bagian lantai masih terbilang bagus. Kerusakan pada bagian lantai hanya terdapat pada ruangan kepala stasiun yang tanahnya ambrol. Selain itu di ruangan yang letaknya di sebelah barat ruangan kepala stasiun sudah rusak dengan beberapa keramik yang terkelupas. Namun lantai pada Stasiun Kalasan sudah tidak asli. Stasiun yang dibangun oleh NISM pada masa kolonial memiliki lantai yang terbuat dari tegel yang berbentuk kotak-kotak. Kini lantai tersebut telah dilapisi dengaan dengan lantai keramik putih yang moderen.
Stasiun Kalasan: Riwayatmu Kini_OB

Lantai pada ruangan Kantor Kepala Stasiun yang sudah pecah, rusak, dan kotor. Terdapat dua jenis lantai yang menandakan adanya pembaharuan yang pernah dilakukan di Stasiun Kalasan. Sumber: dokumentasi pribadi.
  • Atap
Seluruh komponen atap pada bangunan stasiun kalasan ini masih utuh. Genteng genteng yang digunakan masih tertata dengan rapi, hanya saja sudah ditumbuhi dengan lumut dan beberapa rumput liar.
Stasiun Kalasan: Riwayatmu Kini_OB

Atap Stasiun Kalasan sebelah utara terlihat masih utuh dan masih terpasang dengan baik. Sumber: dokumentasi pribadi.
  • Plafon
Bagian plafon bangunan ini beberapa sudah mengalami kerusakan ada yang parah, ada yang bolong dan juga menguning karena rembesan air hujan. Hal ini tak lain karena penggunaan bahan plafon yang terbuat dari triplek, usia bangunan, dan faktor iklim.
Stasiun Kalasan: Riwayatmu Kini_OB

Salah satu sudut dari bangunan Stasiun Kalasan. Terlihat plafon yang sebagian sudah bolong dan beberapa lapuk serta warnanya mulai berubah. Sumber: dokumentasi pribadi.
  • Pintu
Secara keseluruhan pintu – pintu  yang terdapat di bangunan ini masih terpasang dengan baik pada tempatnya. Hanya saja ada beberapa kerusakan seperti cat yang mengelupas, panil kaca pintu yang hancur, dan banyak vandalisme. 
Stasiun Kalasan: Riwayatmu Kini_OB

Pintu ruangan petugas Stasiun Kalasan. Kondisinya sangat memprihatinkan dimana kaca-kaca pada pintu pecah dan banyak vandalisme. Sumber: dokumentasi pribadi
  • Jendela
Seluruh komponen jendela masih dalam kondisi bagus dan terpasang dengan baik pada tempatnya, bahan kayunya pun masih dalam kondisi bagus dan belum ada kerusakan. Hanya saja untuk beberapa jendela mengalami kerusakan dengan beberapa kacanya yang pecah bahkan bagian ini juga tak luput dari aksi vandalisme. 
Stasiun Kalasan: Riwayatmu Kini_OB

Jendela disisi barat Stasiun Kalasan. Jendela ini menjadi salah satu yang rusak dimana kayunya sudah patah dan kacanya penuh dengan vandalisme. Sumber: dokumentasi pribadi.
  • Tiang
Komponen tiang yang menopang bangunan stasiun ini masih berdiri dengan tegak dan belum ada kerusakan ataupun kelapukan bahan kayunya, hanya bagian cat nya yang saat ini sudah mengelupas. 
Stasiun Kalasan: Riwayatmu Kini_OB
Umpak serta tiang pada bangunan Stasiun Kalasan yang terdapat di sisi selatan. Kondisinya terbilang masih cukup terawat. Sumber: dokumentasi pribadi

Selain kondisi pada bangunan Stasiun yang tidak terawat, kondisi lingkungan stasiun pun tidak jauh berbeda. Dimana banyak sampah dan daun-daun kering yang tidak dibersihkan. Terdapat pula semak-semak belukar yang tumbuh secara liar. Adanya kayu-kayu hasil penebangan yang dibiarkan begitu saja membuat pemandangan disekitar stasiun ini benar-benar terlihat tidak terawat.
Stasiun Kalasan: Riwayatmu Kini_OB
Lingkungan sekitar Stasiun Kalasan di sisi sebelah Timur. Terlihat banyaknya sampah. Sumber: dokumentasi pribadi

Stasiun Kalasan: Riwayatmu Kini_OB
Lingkungan sekitar Stasiun Kalasan di sisi sebelah Timur. Terlihat kondisi yang sangat tidak terwat. Sumber: dokumentasi pribadi
Dalam 11 tahun sejak penonaktifan operasional saja, Stasiun Kalasan sudah mengalami kerusakan yang tidak bisa dikatakan ringan, maka 50 tahun kedepan tidak ada yang menjamin bahwa Stasiun Kalasan ini akan tetap berdiri atau bahkan mungkin hilang tidak bersisa seperti yang terjadi pada Stasiun Berbah. Maka dari itu, diperlukan upaya perawatan dan pelestarian serta pencegahan kerusakan bangunan untuk tetap menjaga eksistensi dari Stasiun Kalasan ini.

-Jeana Sicari-

Daftar Pustaka
Pratikno, Djoko. 2018. Penelusuran Bentuk Arsitektur Bangunan Stasiun Kereta Api Jaman Kolonial di Yogyakarta. Surakarta: Universitas Tunas Pembangunan. Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 22 No. 26. Hlm 1-13.
Sulistyani, Harmilyanti. 2010. Karakteristik Tata Ruang dalam Bangunan Stasiun Kereta Api di Jalur Semarang-Vorstenlanden periode 1854-1930. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Skripsi

Minggu, 22 Maret 2020

Gapura Bajangratu dan Tabir Kematian Sang Raja Muda

Gapura Bajangratu dan Tabir Kematian Sang Raja Muda_OB
Tampak Depan Gapura Bajangratu, sumber: dokumentasi pribadi

Selayang Pandang
Secara administratif, gapura Bajangratu Berada di Dusun Kraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Mojokerto yang berada pada ketinggian 41, 49 Mdpl. Situs ini disandingkan dengan sisa – sisa kebesaran peradaban Majapahit yang runtuh 542 tahun silam. Apabila berkunjung ke bekas ibukota Majapahit di Trowulan, Gapura Bajangratu menjadi salah satu objek yang harus dikunjungi. Sama halnya dengan Gapura Wringin Lawang, Gapura Bajangratu diduga pada zaman dahulu berfungsi sebagai gapura masuk ke Keraton Majapahit. Salah satu contoh gapura paduraksa (gapura dengan atap yang menyatu) yang cukup fenomenal adalah Gapura Bajangratu ini. Ukurannya sendiri mencapai 11,00 x 8,50 m dengan denah segi empat dan tinggi pintu sekitar 1,4 meter serta tinggi total gapura sekitar 16, 5 meter. Pintu Gapura Bajangratu yang berukuran cenderung lebih kecil. Pintu yang kecil dan sempit itu membuat tidak semua orang bisa berlalu – lalang keluar masuk dengan bebas sehingga dengan alasan itu Gapura Bajangratu dianggap sebagai pintu masuk ke bangunan yang dianggap sakral berbeda dengan Wringinlawang yang bangunannya bertipe Candi Bentar yang umumnya digunakan untuk pintu masuk bangunan profan. (Sugiyanti et al,1992: 63).
Secara keseluruhan, bangunan Gapura Bajangratu dibagi menjadi tiga bagian yaitu: atap, tubuh, dan kaki dengan material penyusun utama adalah batu bata. Pada kaki sudut kiri depan dihias dengan relief sebanyak empat panil yang kondisinya yang sudah aus sehingga susah untuk dikenali. Namun dari berbagai pernyataan seperti yang dinyatakan oleh ahli dari Belanda yang bernama Bernet Kempers (1996: 299, dalam Sugiyanti et al, 1992: 63-66), relief tersebut menceritakan kisah Sri Tanjung. Pada bagian badan terdapat pintu yang ambangnya terbuat dari batu andesit, dibagian kanan dan kirinya juga terdapat relief yang diduga merupakan cerita Ramayana. Relief ini oleh Sri Suyatmi Satari (1980) disamakan dengan relief Ramayana yang ada di Candi Jago. Dengan itu dapat disimpulkan bahwa Gapura Bajangratu dibangun sekitar abad XIII sampai XIV Masehi. Selain perbandingan relief, perbandingan arsitektur juga dilakukan, yaitu dengan Candi Angka Tahun di Penataran dengan perkiraan angka tahun yaitu sekitar abad XIII. Bagian atap Gapura Bajangratu memiliki tinggi 8,38 meter. Dengan susunan bata berlapis keatas yang semakin keatas semakin mengerucut, setiap lapisan dihiasi ornamen yang setiap dua lapis diselingi deretan menara yang pejal dan saling menyambung. Hiasan kala tampak menghiasi keempat sisinya dengan ciri khas kala bertaring gaya Jawa Timur-an (Sugiyanti et al, 1992: 63 – 66). Berdasarkan adanya relief Sri Tanjung yang ada di Gapura Bajangratu, tulisan ini bertujuan untuk menelisik makna yang terkandung didalamnya dan mencari jawaban mengapa relief Sri Tanjung yang dipilih untuk dipahatkan di Gapura Bajangratu dari sekian banyak opsi cerita yang ada dan berkembang pada masa itu.

Sebuah Pendharmaan Raja Jayanegara
Atas tafsir terhadap Pararaton yang berbunyi “Sira ta dinarmeng kapopongan, bhiseka ring crnggapura pratista ring anantawulan”, maka Gapura Bajangratu sering dikaitkan sebagai sebuah bangunan pendharmaan bagi Raja Jayanegara yang wafat pada tahun 1328 Masehi dengan Wisnu sebagai Dewa Perwujudannya. Dari uraian yang terdapat di kitab Pararaton tersebut dapat disimpulkan bahwa Raja Jaya Negara didharmakan di Crnggapura. Sementara pratista-nya (bangunan sucinya) berada di anantawulan (Trowulan sekarang) (Sugiyanti et al, 1992: 61). Menurut ceita rakyat yang beredar, penamaan Bajangratu juga berkonotasi dengan Raja Jayanegara. Asumsi ini berasal dari definisi Bajangratu secara istilah berasal dari dua kata yaitu bajang dan ratu, bajang dapat diartikan sebagai anak kecil dan ratu berarti penguasa atau raja. Jadi Bajang Ratu dapat diartikan sebagai Raja Kecil. Hal ini sesuai dengan keadaan Jayanegara yang diangkat menjadi Raja Majapahit ketika usianya masih belia (Kepaksian, 2019: 36).

Relief Cerita Sri Tanjung
Sri Tanjung merupakan kisah populer yang trend pada masa Jawa Timur. Cerita Sri Tanjung sering dikaitkan sebagai cerita untuk ruwatan (ritual membersihkan jiwa raga dari kotoran). Isinya mengajarkan ajaran moral yang intinya adalah adanya sebuah sebab akibat dari suatu perbuatan. Sri Tanjung dan Sidhapaksa merupakan sepasang suami istri. Sidhapaksa mengabdi kepada seorang raja yang bernama Sulakrama. Sulakrama sendiri sebenarnya mencintai Sri Tanjung. Untuk memenuhi hasratnya itu, Sulakrama menghalalkan segala cara bagaimana menyingkirkan Sidhapaksa dan merebut Sri Tanjung. Suatu hari Sulakrama mengutus Sidhapaksa untuk berangkat ke kahyangan. Ketika Sidhapaksa pergi mengemban tugas, kesempatan itu digunakan Sulakrama untuk merayu Sri Tanjung. Namun Sri Tanjung tidak menanggapi. Ketika Sidhapaksa pulang, dibuatlah sebuah fitnah bahwa Sri Tanjung berani berselingkuh dibelakangnya. Sidhapaksa yang termakan tipu muslihat akhirnya menikam Sri Tanjung hingga meninggal. Disini keadilan datang, Sri Tanjung dihidupkan kembali oleh Dewi Durga sehingga Sidhapaksa menyadari bahwa dirinya sudah ditipu oleh Sulakrama. Cerita ini berakhir dengan pembunuhan Sulakrama oleh Sidhapaksa. (Pratiwi, 2016: 51 – 63). Sedangkan cerita Sri Tanjung yang ada pada Gapura Bajang Ratu dipahatkan dalam empat panil. Pada relief yang ada di Gapura Bajangratu ini dibaca dari kiri ke kanan. dua relief pertama kondisinya sudah aus pada panil pertama tampak dua orang laki – laki dan perempuan (?) yang dikelilingi oleh sulur – suluran, mungkin adegan ini menceritakan adegan Sri Tanjung dan Sidhapaksa yang sedang bertengkar akibat fitnah yang dihembuskan oleh Sulakrama. Sidhapaksa yang terbakar emosinya akhirnnya membunuh Sri Tanjung. Panil berikutnya tampak ada seekor hewan mirip ikan yang menyemburkan air, ikan ini menjadi kendaraan Sri Tanjung menuju alam setelah kematian. Pada relief ketiga dan keempat kondisinya sangat rusak parah hampir tidak bisa dikenali. Namun setelah pengamatan secara seksama, relief ketika yang menggambarkan seseorang yang sedang naik diatas ikan, ini menggambarkan Sri Tanjung yang menuju alam baka. Dan panil keempat menggambarkan wanita yang berdiri dan mengikat tangan kirinya, ini menggambarkan Sri Tanjung yang sedang menggugat terhadap sang pencipta agar diberi kesempatan hidup lagi untuk membuktikan kepada suaminya bahwa dirinya tidak main serong.
Gapura Bajangratu dan Tabir Kematian Sang Raja Muda_OB
Relief panil pertama, menceritakan adegan Sidhapaksa yang sedang meluap emosinya akibat termakan hasutan Suklarama dan akhirnya membunuh istrinya (Sri Tanjung) sebagai wujud kekecewaan karena merasa dikhianati oleh Sri Tanjung. Sumber: dokumentasi pribadi

Gapura Bajangratu dan Tabir Kematian Sang Raja Muda_OB
Panil kedua, tampak seekor ikan yang menyemburkan air, ini menjadi kendaraan Sri Tanjung menuju alam baka setelah mati dibunuh suaminya sendiri. Sumber: dokumentasi pribadi

Gapura Bajangratu dan Tabir Kematian Sang Raja Muda_OB
Panil ketiga, Sri Tanjung menaiki seekor ikan untuk menuju alam baka dan bertemu dengan Dewa. Sumber: dokumentasi pribadi

Gapura Bajangratu dan Tabir Kematian Sang Raja Muda_OB

Panil terakhir, tampak Sri Tanjung mengikat tangan kirinya sebagai wujud guatan kepada Dewa atas ketidak adilan yang menimpa dirinya, dia mohon untuk dihidupkan kembali supaya dapat membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah dan dirinya hanya difitnah oleh Suklarama. Sumber: dokumentasi pribadi

Korelasi Relief Sri Tanjung dengan Kematian Jayanegara.
Karya (relief, lukisan, dll) merupakan sebuah media untuk menyampaikan suatu ide atau gagasan dimana tokoh dan tingkah lakunya yang digambarkan dalam suatu karya. Karya tersebut merupakan sebuah manifestasi dari kehidupan nyata (Muslim, 2013). Suatu karya seni merupakan cermin dari alam dan realitas di sekitar kehidupan manusia sehari – hari  yang digambarkan dalam suatu karya. Pembuat karya sastra memandang realitas dari kenyataan berdasarkan sudut pandangnya sendiri bahkan kadang-kadang disertai dengan inovasi, atau digambarkan secara alamiah tanpa melewati proses inovasi dan ada juga yang digambarkan melalui simbol-simbol tertentu yang harus ditelaah dengan seksama untuk memahami maknanya. (Pooke dan Newall,2008: 9). Tidaklah mungkin suatu karya diciptakan tanpa memiliki tujuan. Karya seni seperti relief yang dipahatkan pada suatu bangunan suci tentunya memiliki tujuan tertentu seperti menyampaikan pesan moral, pesan keagamaan dan lain – lain sehingga seni merupakan suatu alegori dimana dalam suatu karya terdapat unsur ekstriksik yang terkandung didalamnya untuk menyampaikan maksud dan tujuan tertentu yang dituangkan melalui karya tersebut. Dengan kata lain, karya tersebut merupakan perumpamaan dari sebuah gagasan. (Lelono, 2016: 102). Sama halnya dengan kisah kematian Jaya Negara yang diabadikan oleh Mpu Prapanca dalam karangannya Negarakertagama yang diagung – agungkan itu. Menurut Negara Kertagama yang ditafsirkan oleh Slamet Muljana, Jayanegara wafat ditangan tabibnya yang bernama Tanca. Tanca membunuh Jayanegara atas aduan dari istrinya yang mengaku digoda oleh Jayanegara. Kebetulan saat itu Raja Jayanegara menderita penyakit bisul dan Tanca sebagai seorang tabib yang dipercaya diminta untuk mengobatinya sehingga kesempatan ini digunakan sebaik – baiknya oleh Tanca untuk membalaskan rasa sakit hatinya dengan membunuh Jayanegara (Muljana,1979). Apabila penuturan Tanca atas hasil penafsiran Muljana itu benar, kiranya cukup tepat untuk mengatakan bahwa kisah kematian Jayanegara yang diceritakan dalam Negarakertagama itu kisahnya diabadikan dalam bentuk sebuah alegori cerita Sri Tanjung yang terpahat pada bangunan yang dipercaya sebagai monumen untuk memperingati kematiannya. Terlepas dari penafsiran umum tentang Cerita Sri Tanjung sebagai kisah untuk ruwatan sebagai lanjutan dari kisah cerita Sudamala. Tulisan ini memberikan alternatif pemikiran baru yaitu kisah Sri Tanjung sebagai alegori untuk menceritakan kisah akhir hidup Sang Jayanegara. Cerita tersebut cocok dengan apa yang digambarkan di Negarakertagama yang ditafsirkan oleh Muljana tentang kematian Jayanegara. Jayanegara sebagai seorang raja diibaratkan seperti Suklarama, sedangkan Tanca sebagai abdi raja digambarkan seperti Sidhapaksa, sementara Sri Tanjung merupakan manifestasi dari istri Tanca yang digoda oleh  Suklarama sehingga Tanca merasa sakit hati kemudian membunuh Jayanegara. Kemudian kisah tersebut dikiaskan pada relief cerita pada bangunan yang digunakan untuk menghormati kematian Jayanegara. Jika memang Gapura Bajangratu adalah bangunan peringatan untuk menghormati wafatnya Jayanegara.

Simpulan
Terlepas dari keabsahan sumber tertulis seperti Negarakertagama yang dilontarkan oleh sebagian orang kadang kala tidak serta merta harus disimpukan secara mentah. Kadang kala sumber tertulis dapat menjadi konfirmasi dari sumber benda yang kadang hanya dapat berbicara sepenggal dan sebaliknya. Pemilihan kisah Sri Tanjung sebagai relief penghias Gapura Bajangratu kiranya memiliki seribu alasan mengapa cerita tersebut dipilih. Mungkin alasan untuk memperingati kematian Jayanegara menjadi salah satu alternatif untuk menjawab permasalahan ini. Penulis menunggu kritikan dan masukan dari pembaca dan sangat mengapresiasi penelitian yang lebih lanjut supaya dapat memberikan jawaban yang lebih memuaskan.
-Tri Margono-

Daftar Pustaka
Kepaksian IGAGA Widiana et al., 2019. Ornaments on Candi Bajang Ratu in the Trowulan Culture Conservation Site. Dalam International Journal of Art and Art History Vol.7, No. 02, Edisi Desember 2019, Hlmn: 34 – 38.
Lelono, T.M Hari., 2016. Relief Candi Sebagai Media Efektif Untuk Menyampaikan Informasi Moral - Diktatif Pada Masa Jawa Kuno. Dalam Jurnal Berkala Arkeologi Vol. 36, No.1 Edisi Mei 2016 Hlmn. 99 – 116.
Muljana, Slamet., 1979. Negarakertagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara.
Muslim, Damai Tegar., 2013. Peran dan Jenis Binatang Pada Cerita Binatang relief Jataka di Candi Borobudur. Diunduh dari Repository.ugm.ac.id pada tanggal 8 Desember 2019.
Pooke, Grant dan Diana Newall., 2008. Art History: The Basic. New York: Routledge.
Pratiwi, Prihani., 2016. Makna Visual Relief  Cerita Sri Tanjung Candi Penataran. Skripsi Sarjana Program Studi Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain. Institut Seni Indonseia Surakata.
Sugiyanti, Dwi et al., 1992. Pemugaran Candi Kidal dan Gapura Bajangratu. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sabtu, 21 Maret 2020

Nestapa Makam Dinger Kota Batu

Makam Dinger_OB
Makam Dinger dari kejauhan. Sumber: dokumentasi pribadi

Dekat dengan kota Malang, Kota Batu yang terletak pada ketinggian 680-1200 meter di atas permukaan air laut. Lokasinya yang terletak di dataran tinggi, tepatnya di lereng pegunungan membuat wilayah ini cukup sejuk dengan udara yang nyaman. Kota ini juga dikaruniai oleh keindahan alam yang memikat. Potensi ini tercermin dari kekayaan produksi pertanian, buah dan sayuran, serta panorama pegunungan dan perbukitan sehingga pernah mendapat julukan The Real Tourism City of Indonesia oleh Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional). Julukan lain yang disematkan pada kota yang sudah berdiri selama sembilan belas tahun ini adalah Kota Apel. Selain potensi alamnya, banyak potensi wisata lain yang dapat dikembangkan seperti potensi historis.

Di Kota Batu, terdapat wisata sejarah Makam Dinger yang jarang diketahui orang tetapi memiliki nilai arsitektur yang unik. Makam yang menghadap ke arah utara ini berlokasi di Dusun Wonorejo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Malang. Untuk menuju ke tempat ini, aksesnya cukup mudah yaitu hanya sekitar 50 meter dari Jl. Raya Junggo. Jalan ke arah makam tersebut masih berupa rerumputan liar beralas kerikil yang lebih mudah diakses dengan berjalan kaki. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan mobil atau motor ke lokasi makam. Sampai di area, mungkin yang terbayang dari ekspektasi makam kuno pada umumnya akan berbeda. Makam Dinger ini memilik suasana kompleks pemakaman yang sangat berbeda dengan pemakaman Belanda pada umumnya. Ketika pemakaman Belanda biasanya ada dalam satu kompleks, Makam Dinger terletak di dalam area perkebunan yang lepas dari unsur colonial seperti rumah ataupun pabrik. Bagian sebelah timur dan selatan makam ini adalah area perkebunan yang berisi tomat, jeruk, dan apel. Kemudian, di bagian sebelah baratnya terdapat sebuah jalan tanah ke arah desa. Pemandangan di sekitar area makam ini asri karena didominasi oleh warna hijau perkebunana dan lanskap bukit-bukit yang menjulang tinggi, memberi nuansa hawa sejuk yang menyegarkan.
Makam Dinger_OB
Pahatan tipis yang memberikan identitas Makam Dinger. Sumber: dokumentasi pribadi
Asal usul nama Makam Dinger ini datang dari ditemukannya sebuah pahatan bertuliskan 'Graf Familie Dinger', sebuah ungkapan dari Bahasa Belanda yang berarti 'Makam Keluarga Dinger'. Pahatan ini ditemukan di atas pintu maka didampingi dengan tulisan 'Anno' dan '1917' di bagian kiri dan kanannya. Dua kata itu diperkirakan mengungkap kapan makam itu dibangun. Dari jurnal berjudal 'Analisis Potensi Situs Peninggalan Makam Dinger Sebagai Wisata Budaya di Kota Baru' yang ditulis oleh Gustria dan Supriono, dapat diketahui bahwa makam ini adalah tempat dimakamkannya seorang tuan tanah bernama Graaf Jan Dinger bersama sang istri Elisabeth Malvine Ernestine van Polanen Petel. Meskipun begitu, sekarang makam ini sudah kosong karena jasad dari pasang suami-istri ini sudah dikembalikan ke Belanda dan sekarang bangunan makam itu tidak lebih dari makam kosong dengan nilai arsitektur tinggi. Masih berkaitan dengan keluarga Dinger, keberadaan makamnya di sana diperkirakan karena rumah keluarga Dinger dulu juga berada di sekitar sana. Tetapi, bukti sejarah itu saat ini sudah tidak bisa ditemukan karena rumah-rumah tinggal yang ada di sekitar makam cenderung baru dan sekarang kebanyakan digunakan sebagai tempat tinggal anggota TNI. 
Makam Dinger_OB
Bangunan Makam Dinger yang berbentuk mausoleum. Sumber: dokumentasi pribadi
Sebelum memasuki Makam Dinger, pengunjung akan disambut oleh sebuah jembatan sepanjang sembilan metar yang menghubungkan pintu masuk dengan bangunan utama makam. Keberadaan jembatan ini mungkin terlihat seperti konstruksi bangunan suci. Meskipun begitu, bangunan jembatan ini adalah sebagai penyambung bangunan makam dengan bagian depan makam karena dulu ada sebuah kolam yang mengelilingi bagian luar makam. Oleh sebab itu, jembatan ini dibuat agar peziarah dapat mengunjungi makam tersebut. Walaupun saat ini kolam itu sudah tidak ada, kering dipenuhi semak belukar karena tidak terawat, jembatan ini masih fungsional. Kontruksi jembatan masih sangat kokoh sampai sekarang disamping kondisinya yang kurang terawat dan cat yang sudah mulai pudar, terdapat juga beberapa bukti nyata kegiatan vandalisme yang sangat memprihatinkan.
Makam Dinger_OB
Jembatan yang terdapat di Makam Dinger. Sumber: dokumentasi pribadi

Makam Dinger_OB
Bagian bawah jembatan yang dulu adalah kolam namun kini sudah mati. Sumber: dokumentasi pribadi

Makam Dinger_OB
Contoh vandalisme yang terdapat pada jembatan. Sumber: dokumentasi pribadi
Lebih jauh tentang situs ini, Makam Dinger memiliki bentuk mausoleum dengan tinggi 6-7 meter. Di bagian depan bangunan terdapat sebuah pintu masuk dari kayu dengan kondisi cukup kuat meskipun terlihat kusam. Di dalam makam, mata akan disambut dengan kondisi yang agak miris. Cat pudar dan mengelupas yang menyebabkan warna kehitaman pada tembok. Selain warnanya yang memudar, terlihat juga banyak lumut yang menempel pada tembok makam. Di dalam makam, suasana yang harusnya condong ke mistis dan religius malah hilang digantikan kesan berantakan dan tidak terurus. Hal ini dikarenakan dialifungsikannya makam ini oleh penduduk sekitar sebagai tempat penyimpanan barang (Gustria & Supriono, 2018:68). Bukan hanya keranda besi kosong, di dalam makam juga terdapat benda-benda seperti: bambu, kayu, dan genteng. Setelah bagian dalam, bagian kedua sisi samping serta belakang makam ini juga memiliki kondisi yang tidak jauh berbeda. Warna pada bagian tersebut kusam dan pada bagian bawahnya juga tampak beberapa lumut yang hinggap. Di bagian belakang makam kondisinya adalah yang paling tidak terawat. Warna hitam akibat cat yang sudah mengelupas sangat dominan pada bagian ini. Selain itu, tampak pada bagian atasnya ditumbuhi tanaman-tanaman kecil. Kondisi Makam Dinger dapat dikatakan memprihatinkan dan tidak terawat untuk bangunan yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah sekitar.
Makam Dinger_OB
Dua keranda besi yang terdapat pada Makam Dinger. Sumber: dokumentasi pribadi

Makam Dinger_OB
Bagian dalam Makam Dinger dimana tampak barang-barang yang tidak ada hubungannya dengan makam. Sumber: dokumentasi pribadi
Begitulah kondisi Makam Dinger saat ini, dibalik kekayaan arsitektur yang sejatinya dimiliki oleh bangunana ini, ulah masa dan tangan nakal orang-orang yang kurang bertanggungjawab menjadi momok tertinggal dan pudarnya kemegahan Makam Dinger. Bangunan cagar budaya ini membutuhkan perhatian khusus terutama dari masyarakat untuk bisa kembali bangkit dari masa sekaratnya sebagai tempat wisata sejarah dan pendidikan di Kota Batu. Potensi wisata budaya yang dimiliki oleh Makam Dinger tidak bisa dibilang kecil. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Makam Dinger secara estetika memiliki kandungan unsur keindahan yang terkait seni rupa, seni hias, seni bangunan dan menjadi sumber inspirasi untuk menghasilkan karya-karya bangunan pada masa sekarang. Disamping itu, bangunan tersebut berpotensi untuk dikembangkan sebagai sarana pendidikan masyarakat tentang masa lampau juga berpotensi sebagai sarana rekreasi atau menjadi sumber daya yang dapat memajukan pariwisata daerah. Bangunan peninggalan Belanda ini memiliki konsep imobilitas, yaitu sumber daya yang sangat mahal untuk ditiru dan konsep heterogenitas, yaitu kumpulan sumber daya yang unik (Gustria & Supriono, 2018: 72).
 
Makam Dinger_OB
Tampak Belakang Bangunan Makan Dinger yang perlu diperhatikan. Sumber: dokumentasi pribadi

Makam Dinger_OB
Tampak Samping Bangunan Makam Dinger yang perlu diperhatikan. Sumber: dokumentasi pribadi

Oleh karena itu, perlu dilakukan peremajaan dan perawatan pada Makam Dinger. Bukan hanya akan menambah nilai ekonomi Kota Batu dari sektor pariwisata, kembalinya situs ini ke dalam radar dapat menjadi sumber inspirasi dan pembelajaran di bidang arsitektur. Hal-hal yang bisa dilakukan untuk ‘menyegarkan’ kembali lokasi ini adalah dengan membangun fasilitas memadai, atraksi, dan memperbanyak promosi. Selain dari segi akademik, lokasi Makam Dinger juga cukup aestetik untuk muda-mudi yang sekedar butuh tempat hunting foto baru. Jadi, objek cagar budaya ini sangat mungkin untuk menjadi lokasi wisata yang diminati masyarakat.  


-Lufthansa Zero-

Daftar Pustaka

Anonim. 2003. “Profil Kabupaten/Kota: Kota Batu Jawa Timur”. Diakses dari http://ciptakarya.pu.go.id/profil/profil/barat/jatim/batu.pdf pada 2 Maret 2020.


Gustria, Dendy Derganata & Supriono. 2018. Analisis Potensi Situs Peninggalan Makam Dinger Sebagai Wisata Budaya di Kota Batu. Jurnal Administrasi Bisnis. Mei, 58(2):66-74.



Stasiun Rangkasbitung dari Masa ke Masa

  Stasiun Rangkasbitung Tahun 2022 Sumber: Dokumentasi Pribadi Sebagai salah satu saksi bisu sejarah Banten, keindahan dan keberadaan Stas...

Cek ini juga yuk!